Tuesday, August 28, 2007

Artikel untuk Mimbar Guru dari Pembina Majalah BISIS

Metode Pembelajaran Alternatif




Dalam dunia pendidikan kita sering membaca, membuat bahkan mempraktekkan berbagai macam metode pembelajaran; yang karena seringnya berubah-ubah membuat pelaku pendidikan; dalam hal ini guru/pengajar menjadi jenuh. Dengan dalih update (pembaharuan, penyempurnaan, atau istilah-istilah lain yang sebenarnya sama), metode pembelajaran sering menjadi hal yang merepotkan guru daripada membantu proses pembelajaran. Sebuah perubahan yang berotasi seperti mode atau tren; yang kadang dianggap baru atau modern tapi sebenarnya produk lama atau jiplakan metode lama. Baru tapi lama, kalau boleh penulis memilih istilah; atau lebih ekstrim lagi metode pembelajaran kadaluwarsa yang dibungkus dengan wadah /pembungkus (kurikulum?) baru.
Akhir-akhir ini memang ada tren metode pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa, yang dianggap baru atau modern; kata seorang rekan metode Quantum Teaching, yang tidak membosankan. Dan metode buatan orang yang bingung dan resah itu dianggap modern oleh beberapa rekan yang gila Barat; dan sebenarnya dia resah dan bingung juga.Sebuah metode yang konon menggunakan musik, permainan dan pemanfaatan media audio-visual; seperti pemutaran film. Menurut beberapa praktisi pendidikan yang resah itu, dengan bermain, memyanyi dan bergoyang ria akan membuat siswa tidak jenuh dan bosan; dan penulis belum melihat praktek pembelajaran yang katanya hebat itu aplikasikan di sekolah kita tercinta ini. Mungkin ada yang sudah mempraktekan dan hasilnya bagus; nilai ujian yang didapat 10 semua; dan itu dianggap proses pembelajarannya sukses. Sukses dunia, mungkin; puas dunia mungkin; tapi kesuksesan dunia itu relatif. Di dunia ini, satu menit yang lalu mungkin kita tertawa, sekarang sedih, tapi satu menit yang akan datang kita tidak tahu.



Metode Alternatif

Dalam Qur’an, ada sebuah metode pembelajaran yang dilakukan oleh Khidlir A.S sebagai guru dan Musa A.S sebagai murid (surat Al Kahfi, silahkan buka terjemahan dan tafsirnya), begitu pula metode pembelajaran yang dilakukan oleh Allah dengan Adam A.S di surat Al Baqoroh; dan banyak ayat-ayat dalam Qur’an yang mengungkap tuntas tentang metode pembelajaran.
Menjadikan musik dan permainan yang membuat hati mati dan lalai; serta pemutaran film yang jelas-jelas membuka pintu zina mata dan telinga justru merusak kemampuan konsentrasi peserta didik dalam belajar, terlepas tidak bolehnya kita menggunakan metode tersebut secara syar’i.
Lalu apakah kita harus menjejali peserta, yang memang resah karena kurangnya amal agama itu denagn beban pentransferan ilmu yang tidak manusiawi (kata mereka yang senang memperturutkan syahwat)?
Dalam fikih Islam, kita sah-sah saja menggunakan canda atau permainan yang sehat; tidak dusta, tidak merendahkan orang lain, tidak menggunakan kata-kata jorok atau niatnya hanya biar ditertawakan. Begitupun permaian yang digunakan; tidak membiuka ikhtilat, merendahkan oranglain, dan bukan permainaan seperti permainan orang-orang tidak beragama seperti dadu, kasino, dll.
Sebenarnya, keberhasilan sebuah pembelajarn itu tergantung pada faktor guru; bagaimana ia memotivasi peserta didik, dan faktor peserta didik; bagaimana membangkitkan motivasi belajarnya. Penulis, dalam kesempatan ini, tidak akan membahas bagaimana guru membangkitkan motivasi peserta didik dan bagaimana membimbing peserta didik dalam membangkitkan motivasi belajarnya. Penulis hanya kan cerita sedikit tentang jama’ah dari Utsmani University, India dan Heiderabat University, Pakistan; yang terdiri dari para professor di bidang sains, teknik, kedokteran tapi hafidz Qur’an. Ketika mereka berkunjung ke salah satu kos-kosan teman kami di Solo dan dengar musik nasyid Raihan/Snada?, mereka berkata ”musik haram; tilawah qur’an yes”. Saya mengamati mereka; siang da’wah malam tilawah Quran dan Tahajud; mereka tidak stress atau jenuh, bahkan mereka orang-orang yang cerdas; bahkan ada yang gealr pendididkanmya sampai tujuh. Allohu akbar; Allah Mha tahu denag hamba-Nya. Lalu kenapa kita tidak bangga dengan metode Quir’an, tapi malah bangga dengan metode orang resah (Quantum Teaching, dan apa lagi; penulis kurang tahu)? Jawabnya adalah karena kita resah, bingung; karena kurang amal dan mengkaji ayat-ayat Qur’an. Wallohu ’alam.



Penulis adalah praktisi metode pembelajaran dari SMK N 1 Batang

1 Komentar:

Blogger CempLuk berkata...

"metode pembelajaran yang berubah ubah sering membuat siswa bingung.."

@ September 2, 2007 at 6:44 PM  

Post a Comment

<< Home