Monday, January 16, 2012

Belum ada judul

Wednesday, July 13, 2011

Ijtimak Cikmapek 2011

Syu'bah dengan Para Pekerja Dakwah di Medan Zur Cikampek di Masa Liburan






Alhamdulillah dari Kawasan Batang bisa hadir 54 orang buat hadir dalam Majma' di Cikampek. Kami berangkat malam Jum'at dengan Bus Sinar Jaya dan sampai di medan Ijtima' pada waktu Subuh.
Sebenarnya event ini adalah event yang sangant saya tunggu-tunggu buat mengajak para siswa yang sedang liburan semester genap guna luangkan masa keluar bersama-sama dalam satu jamaah pelajar dari satu sekolah.Sayangnya, dari pelajar yang kami ushuli hanya 5 orang yang bisa hadir di medan zur.
Dari medan Ijtimak yang cukup panas tersebut, PEKALONGAN mendapat lima jamaah; satu jamaah dari India yang gerak 2 minggu, 1 jamaah dari Semarang, 1 jamaah dari Madura, 1 jamaah 40 hari dari Halaqoh Batang Selatan dan satu Jamaah Jalan kaki masa empat bulan dari Depok yang mau gerak di wilayah selatan; daerah pegunungan. Dalam jamaah jalan kaki tersebut, satu orang Black berasal dari Philadepia; seorang pensiunan Angkatan Darat USA yang pernah bertugas di Vietnam..beliau termasuk mualaf karena baru memeluk Islam tahun 1992.
Banyak kargozari menarik semasa kami buat khususi-khususi dengan rekan kerja di kantor; sayangnya beberapa teman tidak WELCOME karena kesibukan dunia mereka dalam rangka persiapan penyelenggaraan tes seleksi masuk SMK; kepala sekolah sendiri sibuk karena beliau harus menyelesaikan THESISnya...
Oh..dunia memang kadang menyibukan kita sehingga kadang kita merasa kalau besok kita masih bisa menghirup udara..padahal perkara besok hanya Allah SWT yang tahu.


Gambar diambil dari blog HALAQOH KOJA

Thursday, February 24, 2011

Kisah Hajar Aswad

Ibrahim as diperintahkan Allah Swt membangun kembali Ka’bah. Ia memenuhi perintah itu dibantu putranya, Isma’il as. Saat hampir selesai mengerjakannya, Ibrahim as merasa ada yang kurang pada Ka’bah. Kemudian ia memerintahkan putranya, “Pergilah engkau mencari sebuah batu lagi yang akan aku letakkan di Ka’bah sebagai penanda bagi manusia.”

Isma’il as mematuhi perintah ayahnya. Ia pergi dari satu bukit ke bukit lain untuk mencari batu yang paling baik. Ketika sedang mencari, malaikat Jibril datang pada Isma’il as dan memberinya sebuah batu yang cantik. Dengan senang hati ia menerima batu itu dan segera membawa batu itu untuk diberikan pada ayahnya. Ibrahim as pun gembira dan mencium batu itu beberapa kali.

Kemudian Ibrahim as bertanya pada putranya, “Dari mana kamu peroleh batu ini?” Isma’il as menjawab, “Batu ini aku dapat dari yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu.” Ibrahim as mencium batu itu lagi dan diikuti juga oleh Isma’il as.

Begitulah, sampai saat ini banyak yang berharap bisa mencium batu yang dinamai Hajar Aswad itu. Umar bin Khathab pernah menyambaikan bahwa Rasulullah Saw sendiri pernah menciumnya. Saat Umar bin Khaththab berada di hadapan Hajar Aswad dan menciumnya ia berkata, “Demi Allah, aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah Saw menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (Hadits no 228 Kitab Sahih Muslim).

Karena sangat bersejarahnya, ada juga orang yang ingin mencuri Hajar Aswad. Di akhir bulan Muharram 1351 H, datanglah seorang laki-laki ke Ka’bah. Ia mencungkil Hajar Aswad, mencuri potongan kain Kiswah, dan membawa sepotong perak dari tangga Ka’bah. Untunglah, penjaga masjid mengetahuinya, laki-laki itu pun ditangkap dan dihukum. Tanggal 28 Rabi’ul Akhir tahun yang sama, dilakukan penempelan kembali bongkahan batu itu ke tempat asalnya.

Sebelumnya perekatan itu, dilakukan penelitian oleh para ahli mengenai bahan perekat yang digunakan. Akhirnya ditemukan perekat berupa bahan kimia yang dicampur dengan minyak misik dan ambar.

Copyright from:
detikRamadan

Sunday, January 23, 2011

AGAMA ISLAM MELARANG PRAKTIK KHURAFAT



Khurafat berasal dari bahasa Arab yang artinya cerita bohong, dongeng dan tahayul atau sesuatu hal yang tidak masuk akal. Semua kepercayaan, keyakinan atau kegiatan yang tidak memiliki dasar dan atau bersumber dari ajaran agama tetapi diyakini hal tersebut berasal dan memiliki dasar dari agama.
Pada mulanya kata tersebut lebih dimaksudkan untuk semua hal atau kepercayaan yang bertentangan dengan akidah Islamiyah yang benar. Akan tetapi selanjutnya juga dimaksudkan untuk semua praktik atau kegiatan muamalah yang bertantangan dengan tuntutan syariat. Dengan demikian khurafat dapat meliputi bidang akidah maupun muamalah atau bidang-bidang lainnya yang menjadi lapangan berlakunya tuntutan syariat padanya.

Khurafat yang oleh pelakunya diyakini sebagai sesuatu yang dibenarkan oleh agama mungkin saja bisa memberi ketenangan dan kemamtapan jiwa bagi yang melakukannya. Akan tetapi karena perbuatan itu pada dasarnya penyimpangan dari tuntunan agama yang benar, ketenangan dan dan kemantapan jiwa tadi bersifat semu, tidak langgeng. Begitu pula karena perbuatan tersebut bertentangan dengan akal sehat pada akhirnya khurafat dirasakan sebagai hal yang berlawanan dengan fitrah kejadian manusia.
Bila agama Islam memusatkan segala bentuk pengabdian hanya kepada Allah SWT maka khurafat menyelewengkannya dari pemusatan dari pemusatan yang demikian. Bila agama melapangkan bidang muamalah bagi manusia maka khurafat cenderung menyempitkannya. Perbuatan-perbuatan khurafat dilakukan bias karena disengaja atau tanpa disengaja, disadari atau tanpa disadari
Khurafat yang dilakukan dengan sengaja atau disadari karena lemahnya orang yang bersangkutan untuk menolak godaan khurafat itu sendiri atau karena maksud-maksud tertentu, tanggung jawabnya terhadap Allah SWT jauh lebih berat dan besar dibandingkan dengan pelanggaran pelanggaran lain yang dilakukan dengan sengaja.
Sedangkan perbuatan-perbuatan khurafat yang dilakukan tanpa disengaja aau disadari biasanya disebabkan oleh ketidaktahuan pelakunya bahwa hal itu tidak dibenarkan oleh agama dan akal sehat, tanggung jawabnya terhadap Allah SWT tetap ada sekalipun tidak seberat dan sebesar yang pertama. Baik pelaku khurafat disadari maupun yang tanpa disadari bagi keduanya senantiasa terbuka harapan untuk dimaafkan asal pelakunya mau bertobat.
Barang siapa yang datang kepada dukun ramal kemudian dia membenarkan apa kemudian dia membenarkan apa yang dilakukannya maka sesungguhnya dia telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dr. Yusuf Qardawi dalam bukunya Fatwa-fatwa kontemporer Jilid 2 Terbitan Gema Insani mengungkapkan Islam dating untuk melindungi manusia dari khayalan dan kebatilan dalam sebaga bentuknya. Dalam hal ini Islam menghubungkan manusia dengan sunnah Allah dalam hal penciptaan-Nya. Kemudian menyuruh mereka untuk menghormati dan menjaganya jika mereka menginginkan kebahagiaan di dunia dan kejayaan di akhirat.
Karena itu Islam menganggap buruk sejumlah perkara yang dikembangkan kaum jahiliyah yang berupa khurafat dan khayalan yang sana sekali tidak ada keterangan dari Allah mengenai halitu dan tidak didasarkan atas bukti-bukti yang akurat. Dalam hal ini Islam sangat mengingkari orang-orang yang mempratikkan dan menyebarkan khurafat serta memanfaatkan orang-orang yang lalai dari kalangan awam yang pasti ada di tengah-tengah masyarakat pada setiap zaman.
Di antara praktik khurafat dan khayalan itu adalah sihir, perdukunan, ramalan nasib, ramalan bintang (astrologi) serta praktik penyingkapan perkara gaib dan sesuatu yang rahasia melalui perantaraan alam ‘tinggi’ atau alam ‘rendah’ hibngga menurut mereka dapat memberitqhukan sesuatu yang akan terjadi pada esok hari, baik dengan jalan ramalan bintang, berhubungan dengan jin, dengan cara menulis atau membuat garis di tanah atau dengan cara-cara lain yang merupakan kebatilan jahiliyah baik di Timur maupun di Barat.
Padahal Allah SWT sudah dengan jelas mengingatkan dalam surat An Naml (27) ayat 65 yang artinya ,
“Katakanlah, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara Gaib, kecuali Allah .”
Allah menyuruh Rasul-Nya yang terakhir untuk mengumumkan dirinya tidak mengetahui perkara gaib.
Karena itu dia ditimpa apa yang juga menimpa orang lain dalam kapasitasnya sebagai manusia. Andaikata dia dapat mengetahui perkara-perkara yang gaib, niscaya dia akan membuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa keburukan. Allah berfirman “(Dia adalah Tuhan) Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali keada Rasul yang diridhoi-Nya QS Al Jin (72) ayat 26-27.
Ada kriterianya
Imam besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof.KH. Mustofa Ali Ya’kub mengatakan , untuk melihat suatu praktik bernilai khurafat atau tidak harus dilihat terlebih dahulu, apakah orang yang menyelesaikan masalah itu dalam praktiknya meminta bantuan makhluk gaib lain atau tidak “Kalau dalam praktiknya ternyata meminta bantuan makhluk gaib sebaiknya dihindari. Karena itu jelas dilarang Allah dan Rasulnya”
Pemimpin Pesantren Luhur Hadis ini lalu mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwiyatkan oleh Imam Muslim, “Barang siapa yang datang kepada tukang ramal (ahli nujum) lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya maka salatnya tidak diterima selama empat puluh malam”.
Baru menanyakan saja dan belum mempercayai dan meyakininya salat kita sudah tidak diterima selama empat puluh malam. Bagaimana kalau kemudian kita bertanya sesuatu akan nasib kita dan keluarga dan kita meyakininya pasti akan lebih besar lagi dosanya. Kyai Mustofa Yakub pun lalu mengutip hadis nabi “ Barang siapa yang datang kepada dukun ramal kemudian dia membenarkan apa yang dikatakannya maka sesungguhnya dia telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW (HR Al Bazzar dengan isnad yang bagus dan kuat dari Jabir)
Karena itu kata dia yang paling aman bagi umat Islam untuk tak pernah berurusan dengan orang-orang yang mengaku pintar dan tahu sesuatu padahal sesungguhnya ia menggunakan jasa makhluk gaib lain. Sehingga menyeret kita kepada tindakan syirik yang jelas-jelas merupakan dosa yang sangat besar dan tak terampuni.
Namun demikian jika ingin bertanya kepada orang-orang shaleh dan ulama terhadap persoalan kehidupan yang memang keshalehannya dan kealiman ulama tersebut sudah sangat diketahui maka maka tidak ada salahnya kita bertanya kepadanya. Tapi cara yang paling indah bila kita mengadukan berbagai persoalan langsung kepada Allah SWT melalui salat sunnah tahajjud , dhuha dan sebagainya.
Sejak beberapa waktu lalu, muncul tawaran menggiurkan di layar TV yang mendorong pemirsa untuk tidak ragu menanyakan sesuatu kepada ‘orang pintar’. Dengan penuh keyakinan si ‘orang pintar ‘ itu menjanjikan nasib akan berubah jika menghubunginya. Orang yang berbeda, dengan tak kalah meyakinkan berujar ‘Anda tak perlu terkejut bila tiba-tiba kami mengabari sesuatu terhadap apa yang akan Anda hadapi. ‘ Satu catatan kecil : cukup dengan menghubungi nomor SMS tertentu dan berlangganan. Ya pesan tadi ada pada iklan ramal-meramal dengan media SMS.
Menurut ulama yang sering tampil mengisi ceramah di TV, KH. Anwar Sanusi, konisi masyarakat kita sekarang ini sedang sakit “Kondisi sakit ini dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu seakan-akan memberikan terapi dan diagnosis tetapi sesungguhnya mereka memberikan kebodohan”, tegas kiai Sanusi. Mestinya mereka bisa melakukan pendekatan diri kepada Allah SWT. Melalui salat tahajud, dhuha maupun ibadah sunnah lainnya . “Lha, karena mereka sakit akhirnya mencari jalan pintas yakni bertanya kepada orang-orang yang bukan ahlinya., yang sebenarnya tidak memberikan jalan keluar malah membodohi mereka,” tegasnya.
Dengan tegas kyai Anwar Sanusi menyebut iklan itu jelas-jelas mendorong untuk syirik kepada Allah. “Dan ini mestinya tidak boleh dibiarkan saja termasuk oleh pemerintah.
Pandangan yang sama diungkapkan pakar hadis Dr. Luthfi Fatullah,M.A. Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menilai kegiatan meramal yang marak di layar TV selain membodohi umat juga mendorong ke arah musyrik. “Ramal meramal itu selain musyrik juga membodohkan umat. Umat didorong untuk mempercayai sesuatu yang tidak pasti tanpa hitungan yang rasional. Padahal Allah SWT menyuruh kita untuk hidup kecuali berkeyakinan dengan hal-hal yang rasional.
Dampak meramal, seseorang tidak akan berbuat kecuali sesuai dengan ramalan tersebut. Dan ramalan itu sama sekali tidak ada jaminan kebenarannya. “Ketika seseorang tidak akan melakukan sesuatu kecuali dengan ramalan tadi itu kan menjadikan seseorang tidak berbuat kecuali atas arahan si peramal, jelasnya.
Rasulullah menegaskan dalam hadisnya “ Berdustalah para peramal walaupun mereka benar.. Umpamanya sesuatu yang diramal atau ditebak itu benar atau sesuai dengan yang ada sesungguhnya para peramal berdusta. Mereka sesungguhnya tidak tahu. Inilah maksud hadis Rasulullah SAW.
Yang harus disikapi umat dengan gencarnya iklan ramalan-ramalan nasib, yaitu umat Islam tidak peduli atas ramalan tersebut. Abaikan saja dan jangan sekali-kali berusaha untuk mencobanya. Mencoba sekali saja bisa jadi akan ketagihan. “Ini kan persis seperti judi. Begitu pertama kita mencobanya dan kebetulan benar, bisa jadi akan ketagihan. Ketagihan inilah yang akan merusak.
Bahaya lain dari ramal-meramal ini ialah membuat seseorang menjadi pemalas karena mereka yang menggantungkan nasibnya kepada peramal hanya menunggu apa yang dikatakan juru ramal. Ini sangat berbahaya bagi mental umat Islam Indonesia.

Monday, May 3, 2010

Tantangan Pertama aq Buat Kerja Maqomi

Teman aku yang aktif di PKS selalu memperkenalkan aku sebagai aktifis JT (Jamaah Tabligh); sebuah kata yang cenderung mengarah kepada firqoh; padahal aktifitas dakwah kami adalah amalan bukan firqoh; dakwah tanggung jawab ummat akhir zaman



Bapak Anton Bachrul Alam sedang Bayan Subuh


Buat usaha dakwah di maqami memang tidak selamanya mulus dan tanpa tantangan. Hari Ahad kemarin, tanggal 2 Mei 2010; jamaah dari halaqoh Batang Selatan yang nisab 3 hari di muhalla aqu terpaksa harus meninggalkan mushola Al-A'raf, di Perum PISMA GRIYA, RT 008 RW 006, Terban, Warung Asem, Batang. Berbagai alasan yang mereka gunakan untuk menolak jamaah adalah sebagai berikut:


  • Kepala Keamanan di perumahan kami mengatakan kalau aktifitas jamaah yang datang membuat resah, menggunakan mushola sebagai tempat tidur, makan, minum dan cuci-cuci. Selain itu, katanya membuat sulit penjaga pintu masuk perumahan dengan keluar-masuknya anggota jamaah; dalam kaitannya dengan identifikasi pendatang yang masuk ke perumahan.

  • Ada juga yang menolak metode dakwah dengan mendatangi rumah-rumah mereka (maksudnya, jaulah umumi maupun khususi). Bahkan ada yang gelarnya S.Pd, seorang guru SLTA, yang me-warning klo pun keliling jangan masuk ke rumahnya; dengan alasan dia tidak mau diajak kemana-mana; selain, dia merasa sudah pandai masalah agama.

  • dan lain-lain alasan; seperti ada yang merasa risih kalau melihat banyak orang asing berkeliaran (jaulah) di depan rumahnya. Padahal kerja orang ini, klo ga salah ya sales; juga sering pergi-pergi

  • ada juga yang merasa klo metode dakwah ini sudah kuno untuk zaman sekarang yang sudah banyak media informasi dan komunikasi


Dan Bapak RT (seorang insinyur) serta Takmirul Mushola (ada yang polisi, pegawai PEMDA, guru agama, Teknisi) yang lain akhirnya tidak bisa berpihak kepada kami;karena mereka beralasan kalau mereka adalah milik warga yang musti netral.Apapun alasan mereka adalah; mereka adalah menolak dakwah. Dan mereka yang menolak adalah mereka yang jarang sholat jamaah di mushola. Gimana tidak; jamaah magrib saja cuman 3-5 orang. Gimana klo isya, dan waktu-waktu lain...apalagi Dhuhur dan Ashar..Selain itu kesalahan besar terletak pada saya..karena lemah iman, lemah kerja maqomi dan kurang tawajuh pada Allah (karena mengira klo sudah jadi ta'mir..lalu mulus perijinan..nyatanya tidak. Saya harus legowo untuk menerima putusan musyawarah jam 12 malam minggu tanggal 2 Mei tersebut...ya Allah, saya bertobat kepada Engkau yaa Rabb, dan istiqomahkan kami dalam usaha dakwah kekasih-Mu; Nabi SAW, meski cobaan dakwah selalu datang bertubi-tubi. Dan berikanlah mereka yang menentang usaha dakwah atau terserah Engkau, Yaa Rabb

Saturday, February 6, 2010

Usaha Dakwah di Kampus

Usaha Dakwah di Kalangan Pelajar



Menghidupkan Usaha Dakwah di Sekolah



Sudah lama usaha dakwah di sekolah di wilayah Batang, terutama halaqah Batang kota dihidupkan. Namun begitu, belum banyak jamaah pelajar terbentuk; yang bisa keluar dari muhallah sekolah.Di era tahun 2004/2005, memang dari mushola SMK 1 BATANG ini pernah keluar satu jamaah ketika masa liburan. Namun setelah adanya hasungan agar pelajar keluar bersama dengan orang di muhalla terdekat di tempat asal mereka; target jamaah pelajar sering tidak terpenuhi.



Dua marbot di musola SMK-ku, Mas Kuntoro dan mas Yusuf


Saya berharap disamping hidupnya beberapa amalan mushola seperti shalat jamaah, kajian Al Quran, tilawah Al-Quran serta hidupnya shalat-shalat sunnah seperti dhuha,dll; dari mushola ini akan kembali terbentuk lagi jamaah-jamaah pelajar yang siap dihantar untuk buat usaha da'wah di kalangan pelajar

Saturday, January 30, 2010

renungan BISIS edisi 22

Kenapa Alam Enggan Bersahabat dengan Kita



Ketika kita membaca judul di atas, mungkin kita langsung teringat dengan penggalan bait syair dari lagu yang dulu dipopulerkan oleh penyanyi legendaris Ebiet G ADE. Memang benar, akhir-akhir ini, alam atau bumi Indonesia sepertinya sudah tidak mau bersahabat dengan kita. Berbagai bencana yang berasal dari langit dan bumi terus menerus menimpa persada ini. Masih terngiang di telinga kita jeritan para korban tsunami, lumpur Lapindo Brantas, gempa tektonik di Yogyakarta dan juga jebolnya tanggul Situ Gintung di Tangerang baru-baru ini. Semua bencana itu semakin memiriskan hati.
Kadang kita bertanya-tanya dalam hati; ada apa dengan persada ini. Apakah begitu berdosanya penghuni negeri ini, sehingga bumi negeri ini tidak mau lagi berkhidmat pada penduduk negeri? Banyak anak dari negeri ini, baik mereka yang intelek maupun yang hari-hari dekat telek (kotoran binatang,red), justeru mencari kambing hitam. Mereka mencoba menyalahkan sana-sini; bahkan alam yang benda mati, tidak bisa berbuat apa-apa juga dipersalahkan. Namun bagi yang ada akal dan iman yang benar kepada Allah akan mencari justifikasi dari ayat-ayat Allah di Al-Qur’an; karena memang Al-Qur’an adalah justifikasi sekaligus solusi yang valid dan final bagi setiap permasalahan yang terjadi di bumi ini.
Bagaimana Al-Quran memberikan justifikasi dan solusi bagi setiap bencana di muka bumi ini? Dalam surat Ar Rum(30): 41, Allah berfirman: ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Begitupula dalam ayat berikut:” Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya; begitu kata Allah dalam surat Al-A’araf, (70): 96). Dari contoh dua ayat di atas kita bisa mengerti kalau bencana-bencana itu terjadi karena factor manusia bukan alam; karena alam adalah benda mati tidak bisa berbuat apa-apa.
Dari beberapa ayat di atas, kitapun bisa mengambil simpulan bahwa solusi valid dan final dari berbagai bencana itu adalah perbaikan hati (iman) dan amal-amal manusia. Berbagai teori manusia untuk menyelesaikan bencana-bencana tersebut hanyalah terbatas pada solusi amal; yang sifatnya trial and error. Solusi yang trial and error tersebut hanya bisa menyelesaikan 30 % dari permasalahan yang ada. Untuk menyelesaiakn permasalahan yang masih 60% tersebut, hanya perbaikan iman dan hati-hati manusia sajalah. Namun begitu, hanya orang-orang yang berakal saja yang mampu mengambil ‘ittibar (pelajaran) dari akibat-akibat yang terjadi di alam ini. Begitu pula, hanya orang yang mendapatkan hidayah sajalah yang bisa menerima ayat-ayat Allah sebagai solusi final dari berbagai masalah di dunia ini.