Saturday, December 8, 2007

Artikel Edisi Nop-Feb

Emansipasi Wanita

Tanggal 22 Desember; sebuah tanggal yang sering dikaitkan dengan ibu. Berbicara tentang ibu, berarti kita berbicara tentang fikih wanita. Karena ibu adalah penentu baik buruk generasi mendatang; sehingga masalah ibu adalah ,fikih masalah wanita adalah perkara yang penting dalam agama Islam.

Wanita dan Karir
Fikih wanita mengatur tentang kebolehan wanita untuk keluar dan bekerja dengan batas-batas darurat; misalnya tidak adanya lelaki yang mencari nafkahnya bagi keluarga, karena lelakinya tidak mampu; sudah uzur atau ada halangan.Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah dalam "Tahrir al Mar'ah Fii Ashri ar Risalah" menyebutkan kalau wanita boleh bekerja profesional dalam rangka membantu suaminya yang miskin, adanya tujuan untuk menyumbang kebajikan atau tunaikan fardlu kifayah seperti mengajar, mengobati wanita muslim dan putera-puteri mereka.Seperti dikisahkan dalam surat Al Qosos (28)ayat 23, dua anak perempaun Nabi Syu'aib terpaksa menggembalakan ternaknya karena bapak mereka sudah sangat tua.Namun begitu mereka tetap menjauhi campur gaul dengan para penggembala laki-laki.Begitu pula di zaman Rasulullah SAW, wanita juga diperbolehkan untuk bekerja; seperti, Ummu Mubasyir al Anshoriyah yang menjadi petani di Medinah, Rufidah al Aslamiyah yang bekerja sebagai perawat, Ummu A'thiyah yang membantu dalam peperangan.
Selain itu, kalaupun wanita terpaksa bekerja di luar, mereka tetap harus menjaga pandangan kepada laki-laki lain , lihat Surat 23 ayat 5-6; menjauhkan diri dari perkara-perkara yang menjerumuskan diri kepada perkara zina (zina mata, hati, tangan, kaki, dll)(Surat 17 ayat 32). Para wanita yang bekerja di luar juga harus tetap menghijab diri mereka; artinya berpakaian yang menutupi aurat. Dan aurat wanita adalah seluruh badan. Menghijab diri juga artinya tunduk dalam berbicara; tidak dilembut-lembutkan, dimerdu-merdukan buat menarik kaum lelaki. Menghijab diri juga artinya tidak berhias dan bertingkah laku sebagaimana orang -orang rusak dan bodoh; begitu kata Surat al Ahzab (33) ayat 342-33.
Namun begitu, apapun tujuan syar'i jangan kerja-kerja tersebut mengabaikan hak suami dan anak serta mengurus rumah tangga.



Tugas Pokok dan Utama Wanita Muslim

Sebenarnya fitrah wanita adalah sebagai ibu rumah tangga; dan fitrah ini dari dulu sampai sekarang tidak berubah, lihat surat Ar Rum ayat 30. Lalu sebagai ibu rumah tangga, apa sebenarnya tugas pokok seorang ibu; yang membuat ia mulia di dunia dan akhirat? Para ulama yang lurus aqidah dan ilmunya menyebutkan empat tugas utama seorang ibu, seperti di bawah ini:



  1. Sebagai dai'yah, tanggung jawab da'wah. Dalam hal surat at Taubah ayat 71, disebutkan kalau setiap muslimah memiliki tugas dan peranan dalam memikul tanggung jawab da'wah.Wanita adalah penggerak utama dari denyut jantung ummat ini. Begitu yang dilakukan oleh ibunya orang -orang beriman, Ibunda KHadijah R.Ha; yang telah awal berkorban buat da'wah.

  2. Sebagai 'alimah, tanggung jawab terdap ilmu fikih dan Islam. Ibu adalh tempat bertanya bagi putera-putrinya tenatng berbagi hal tentang kewajiban syar'i beribadah yang pokok; seperti bersuci,adab-adab, dll.Kewajiban dan menyampaikan ilmu agama dalam Al Islam juga dibebankan kepada para wanita. Wanita diperintahkan oleh Allah SWT agar senantiasa belahjar dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam baik pad aorang lain maupun terlebih-lebih kepada anak-anaknya; begitu yang disebutkan oleh surat al Ahzab ayat 34

  3. Sebagai murobiyyah, atau pendidik anak-anaknya; ibu adalah madrasah atau sekolah pertama dan utama yang paling banyak alokasi waktunya untuk pembelajaran anak-anaknya bagi pembentukan watak dan kepribadiannya. Artinya, warna pembelajaran apa yang diberikan seorang ibu kepada anak akan menjadi warna bagi masa depan mereka.

  4. Tanggung jawab khidmat pada suami, anak-anak dan rumah tangga. Ibu adalah manajer rumah tangga bagi penciptaan kehidupan rumah yang seperti disabdakan Nabi Muhammad SAW, "Rumahku adalah surgaku"


Tapi semuanya kembali kepada keimanan dan ilmu wanita Muslim itu sendiri kepada al Islam; apakah dia lebih suka menuruti hawa nafsu sebagaimana wanita Barat dengan dalih emansipasi atau lebih memilih menjadi calon-calon ratu bidadari di surga; tapi rela berkorban diri dan harta demi tegaknya al Islam dan as Sunnah di muka bumi ini. Wallohu'alam



Ditulis oleh Agus Bagyo, dengan berbagai referensi
Artikel BISIS Edisi 21 Bulan Oktober 2009
Artikel Guru BISIS Edisi 21 Bulan Oktober 2009

KemBali Ke....

2 Komentar:

Blogger Aditya N B berkata...

"assalammualaikum pak , apa kabarnya lama ga mampir kesini"

@ December 22, 2007 at 8:50 PM  
Blogger Ghufron Pahlevi berkata...

"Ya, Allah Jadikan kami dan wanita-wanita kami orang-orang yang berdiri di shaf terdepan dalam memperjuangkan agama-Mu"

@ December 26, 2007 at 8:57 PM  

Post a Comment

<< Home